Menguak Profil & Strategi Konsorsium OPI–MII–PPP dalam Akuisisi Saham OLIV: Siapa di Balik Investor Baru?

Isu akuisisi saham PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk (OLIV) menjadi sorotan besar di pasar modal Indonesia. Emiten produsen furnitur ini tiba-tiba mencatat lonjakan harga saham hingga ratusan persen hanya dalam waktu beberapa minggu — dipicu oleh kabar bahwa pengendali lama telah menandatangani perjanjian jual beli saham dengan konsorsium investor baru, yakni PT Olive Power Invest (OPI), PT Motif Investasi Indonesia (MII), dan PT Pacific Prima Permata (PPP).

Namun, siapakah mereka sebenarnya? Apakah grup konglomerat besar sedang menyusun langkah diam-diam? Ataukah ini strategi baru dari investor swasta untuk membangun konglomerasi baru dari emiten mini? Artikel ini akan mengupas tuntas profil, strategi, dan potensi bisnis di balik akuisisi saham OLIV.


🏢 Sekilas Tentang OLIV

PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk (kode saham: OLIV) dikenal sebagai perusahaan furnitur dan perlengkapan rumah tangga dengan merek “Oscar Living”. Perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 17 Mei 2022 dan tercatat di papan akselerasi.

Sebelum akuisisi, struktur kepemilikan saham OLIV adalah:

  • Hendro Jap – 71,84 %
  • Hioe Mie Tjen – 7,11 %
  • Publik – 21,05 %

OLIV memproduksi berbagai jenis furnitur kantor dan rumah tangga, dengan pasar utama di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Meski industri furnitur cukup kompetitif, OLIV mampu mencatat pertumbuhan moderat — namun skalanya masih relatif kecil di antara emiten sejenis.


📣 Pengumuman Akuisisi dan Pergantian Pengendali

Pada 17 September 2025, OLIV mengumumkan bahwa dua pemegang saham utamanya telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBSB) dengan konsorsium investor yang terdiri dari OPI, MII, dan PPP.

Total saham yang dilepas mencapai 1,48 miliar lembar atau setara 77,9 % dari seluruh saham OLIV yang beredar. Nilai transaksi belum diungkap, namun diperkirakan berada di kisaran Rp 1,3–1,5 triliun berdasarkan harga pasar.

Kabar ini langsung memicu kenaikan harga saham OLIV hingga lebih dari 400 % hanya dalam dua minggu. Investor berspekulasi bahwa pengendali baru akan membawa arah bisnis yang sepenuhnya berbeda.


🧩 Siapa Konsorsium OPI – MII – PPP?

Mari kita bahas satu per satu berdasarkan keterbukaan informasi dan penelusuran profil perusahaan.

🔹 1. PT Olive Power Invest (OPI)

OPI menjadi pemimpin konsorsium akuisisi ini. Berdasarkan dokumen resmi, perusahaan ini didirikan pada tahun 2024 dan berkantor di Jakarta Selatan. Bidang usahanya mencakup:

  • Investasi energi terbarukan
  • Jasa konsultasi keuangan dan manajemen
  • Perdagangan umum dan aktivitas holding company

OPI digadang-gadang memiliki visi membangun ekosistem bisnis energi hijau dan digital di Indonesia. Beberapa analis menduga bahwa OPI memiliki afiliasi tidak langsung dengan pengusaha nasional yang berpengaruh, meski hingga kini tidak ada konfirmasi resmi dari pihak mana pun.

Dengan profil yang masih muda, OPI dianggap emerging investor dengan ambisi besar di sektor strategis.


🔹 2. PT Motif Investasi Indonesia (MII)

MII dikenal sebagai perusahaan private equity yang fokus pada akuisisi perusahaan kecil dan menengah (SME) yang undervalued.
Model bisnis mereka sederhana tapi efektif:

“Membeli perusahaan dengan valuasi rendah, memperbaiki fundamental dan branding, lalu menumbuhkan nilai pasar melalui ekspansi dan transformasi.”

Dalam konteks OLIV, MII diprediksi akan berperan dalam restrukturisasi operasional, pembiayaan ulang (refinancing), dan pengembangan jaringan distribusi.

MII bukan bagian dari konglomerat besar, namun memiliki reputasi sebagai “turnaround specialist” di kalangan investor swasta.


🔹 3. PT Pacific Prima Permata (PPP)

PPP melengkapi struktur konsorsium dengan fokus pada pembiayaan dan investasi properti-komersial.
Dalam akuisisi OLIV, PPP kemungkinan besar bertindak sebagai strategic investor yang menyediakan dukungan modal dan aset untuk ekspansi pasca-akuisisi.

Meski tidak banyak terekspos publik, PPP disebut-sebut memiliki hubungan dengan beberapa investor institusional dari Surabaya dan Singapura.


💡 Apakah Konsorsium Ini Termasuk Konglomerat?

Secara resmi, tidak ada dari ketiga perusahaan tersebut yang tercatat sebagai bagian dari grup konglomerat besar Indonesia.
Namun, struktur dan sumber pendanaan mereka menunjukkan adanya dukungan kuat dari investor kaya (high net-worth individuals).

Analis pasar menilai bahwa akuisisi OLIV ini bisa menjadi “batu loncatan” bagi pembentukan grup bisnis baru, mirip dengan pola ekspansi yang dulu dilakukan konglomerat muda seperti Harita, Triputra, atau MNC di masa awal.

Dengan kata lain, meski belum dikategorikan sebagai konglomerat, konsorsium OPI–MII–PPP berpotensi menjadi embrio konglomerasi baru dalam beberapa tahun ke depan.


⚙️ Strategi Pasca Akuisisi: Pergantian Arah Bisnis

Dalam surat keterbukaan yang dikirim ke BEI, manajemen OLIV menyebutkan bahwa setelah akuisisi selesai, perusahaan akan:

  1. Melakukan restrukturisasi manajemen dan dewan komisaris.
  2. Menjalankan diversifikasi bisnis di sektor energi, investasi digital, dan e-commerce furnitur.
  3. Mempertimbangkan aksi korporasi lanjutan, seperti rights issue, private placement, atau pembentukan anak usaha baru.

Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kapitalisasi pasar OLIV dan memperluas portofolio bisnis agar tidak hanya bergantung pada industri furnitur.


📊 Dampak ke Harga Saham dan Sentimen Pasar

Sejak pengumuman pertama pada September 2025:

  • Harga saham OLIV naik dari Rp 60 per saham menjadi lebih dari Rp 300 per saham, melonjak >400 %.
  • Volume transaksi melonjak tajam hingga menembus 100 juta lot per hari di puncak euforia.
  • Setelah klarifikasi BEI mengenai status “proses masih berlangsung”, harga sempat terkoreksi 10–15 %, namun tetap stabil di atas level awal.

Analis menilai pergerakan ini sebagai contoh klasik fenomena “buy the rumor, hold the momentum” — di mana ekspektasi akuisisi menciptakan gelombang spekulatif yang besar.


⚠️ Risiko & Tantangan

Meski peluangnya besar, ada beberapa risiko yang perlu dicermati investor:

  1. Belum Final:
    – Proses akuisisi masih bersyarat hingga semua persetujuan formal selesai (termasuk RUPSLB & otoritas BEI).
  2. Kemungkinan Penundaan:
    – Jika tidak memenuhi kondisi perjanjian, transaksi bisa tertunda atau dibatalkan.
  3. Koreksi Pasar:
    – Saham sudah naik tinggi, rawan aksi profit taking.
  4. Transformasi Bisnis Tidak Mudah:
    – Mengubah arah perusahaan dari furnitur ke sektor energi/digital memerlukan strategi dan dana besar.

🔮 Prospek ke Depan

Jika akuisisi benar-benar selesai, konsorsium OPI–MII–PPP berpotensi menjadikan OLIV sebagai:

  • Holding company baru yang menampung bisnis energi, teknologi, dan perdagangan.
  • Gateway untuk masuk ke pasar modal tanpa perlu IPO baru.
  • Emiten turnaround yang bisa naik valuasinya 3–5 kali lipat jika restrukturisasi sukses.

Namun, jika akuisisi gagal, OLIV bisa kembali ke valuasi lama — sehingga disiplin manajemen risiko tetap wajib dilakukan oleh investor.


🧭 Kesimpulan

Konsorsium PT Olive Power Invest (OPI), PT Motif Investasi Indonesia (MII), dan PT Pacific Prima Permata (PPP) saat ini menjadi pusat perhatian pasar modal Indonesia karena rencana akuisisi 77,9 % saham OLIV.

Ketiganya bukan konglomerat besar, tetapi merupakan kelompok investor swasta strategis dengan ambisi membentuk ekosistem bisnis baru. Jika proses ini berjalan lancar, OLIV bisa menjadi salah satu emiten transformasional paling menarik di BEI 2025–2026.

🔑 Intinya:

  • Konsorsium OPI–MII–PPP adalah pemain baru dengan potensi besar.
  • Akuisisi OLIV bukan sekadar pergantian nama, tapi bisa menjadi titik awal kelahiran konglomerasi baru.
  • Investor perlu memantau kelanjutan proses ini hingga resmi disahkan oleh BEI dan RUPSLB.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *